Ruang Ceritaku dalam Muktamar NU di Lampung

Ruang Ceritaku dalam Muktamar NU di Lampung

Diposting pada 154 views

Ruang Ceritaku dalam Muktamar NU di Lampung

Bilqolam.id – Keberangkatan kami kelampung untuk menghadiri acara yang sangat luarbiasa yakni Muktamar yang ke-34 Nahdlatul Ulama (NU). Namun sebeleum menjelang satu bulan muktamar, kami sudah melakukan rapat dan evaluasi persiapan Tim, serta mengatur setara tegi, karena keberangkatan kami bukan sekedar menghadiri acara yang sangat luarbiasa itu. Namun kami juga ada tim Media, selain tim media kami juga punya tim perkaosan. “Nah kesempatan itu sungguh tidak akan kami siasiakan dilain sisi kami mencari barokah Ulama dan para Wali Allah. Disisi lain kami juga sedang berjuang mencari rupiah, hehehe…

Keberangkatan kami dari Jogja menuju lampung, itu melewati banyak kota-kota, diantaranya sebut saja Kota Jakarta. Dan setelah melewati banyaknya kota, kamipun harus tancap gas lagi ke pelabuhan Merak, karena itu adalah titik terakhir kami menuju lampung dengan menyebrangi laut samudra dengan harus menaiki kapal feri, Karena kapal feri selain bisa mengangkut barang dan orang, juga bisa mengangkut mobil. Dan sesampainya kami di kapal, kamipun bersama rombongan langsung bergegas keluar di mobil dan menikmati lautan yang berombak kecil yang berkelap-kelip di  bawah redup sinar bintang yang samar-samar karena di selimuti awan hitam. Dan kami pun tidak lupa untuk  mengabadikan suasana atau sensasi yang sangat luarbiasa itu. Yah.., biar kelihatan lebih keren gitu Selfi dengan pose berbagai macam gaya dengan backgaround diatas kapal feri di bawah sinar lampu yang indah berwarna kuning ala kunang-kunang itu haha…. haha…haha…

Setelah beberapa selang waktu kami menikmati suasana dengan penuh kegembiraan yang disertai dengan perbincangan dan curhatan, tiba-tiba diantara kami ada yang mengatakan,

“Ternyata giniya rasanya naik kapal laut?”

Setelah mendengar kata-kata itu, akupun langsung respon sembari balik bertanya.

“Emang kenapa kamu bilang kayak gitu”? lantas iapun menjawab

“Soalnya, saya baru pertama kali ini naik kapallaut, kalau sampan yang di dasar pantai, itu sudah biasa aku naiki sembari mendayung.” Ucapnya.

Dan aku sebagai pendengar takkuasa menahan tawa, dan aku langsung tetarwa terbahak sampai tak ada kata walau barang sepatahpun atau satupun yang terucap di bibirku selain suara tawa yang nyaris seperti orang Gila, begitupun dilanjut teman-temann lainya yang ikut serta menertawakan saat mendengar pernyataan salah satu dari teman kita itu. Dan akhirnya di malam yang sunyi dilaut Sumatra dengan penuh ilusi, dengan tanpa kesadaran, kami telah menemukan lorong dunia kami yang ke dua, yakni alam bahagia yang tiada kira. Sembari menanti kapal yang sedang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Singkat cerita, sesampainya kami di lampung tepatnya di rumah penginapan khusus untuk para pendatang atau pengunjung, kamipun segera beristirahat untuk menghilangkan lelah dan letih karena perjalanan yang begitu amat panjang. Dan keesokan harinya kamipun mulai ramai lagi dengan mengenang perjalanan dan segela kejadian yang telah kami lalui selama satu hari satu malam, namun Naasnya pada hari itu ketika kami semua sudah berunding untuk siapa yang duluan mandi, maka di situlah kenaasan yang tidak bisa kami elakan karena sumber air tidak bisa keluar, akhirnya kamipun hari itu tidak bisa mandi dan tidak bisa masak untuk sarapan pagi.

Lalu pimpinan dan para senior kami di Asrama kembali berunding mencari solusi , dan akhirnya solusi atau jalan keluar dari permasalahan itu adalah pindah tempat dari perumahan yang tadinya kami tempati itu, dan kamipun terpaksa mengemas barang kembali lalu berangkat ketempat yang sudah kami akan tempati itu. Dan syukur alhamdulillah kamipun terbebas dari kenaasan itu, dan kami segera berunding lagi terkait pembagian tugas untuk segera bisa action kelapangan nanti, dan akhirnya aku mendapatkan mandat untuk memasarkan kaos diacara pembukaan Muktamar nanti, yang mana pemebukaan akan di selenggarakan di Ponpes Darussa’adah lampung. Sedangkan yang lainya betugas di media.

Dan itulah hal yang paling mengesankan bagiku, kerena selain bisa menghadiri acara Muktamar yang Ke 34 itu, akupun bisa mengenal berbagai macam rupa banyak orang dari berbagai daerah bahkan antar Negara, kerena setiap aku bersuara untuk mempromosikan kaos yang kami jual sembari membagikan brousur, Syukur Alhamdulih banyak orang yang mampir sembari membeli untuk oleh-oleh pulang nanti, karena desain yang kami pakai bukan hanya sekedar desain konteks Islami saja, namun kami juga membuat desain khusus untuk Muktamar lampung. Kemudian ke esokan harinya ialah malam yang dinanti-nanti oleh para Marga Nahdliyin, yakni pemilhan ketua Umum PBNU.

Kamipun tak mau kalah dengan momen dan susana yang sangat membuat hati orang dag dik duk itu, karena menanti Pemungutan suara serta pengumuman siapa yang akan menduduki kursi Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdaltul Ulama Nanti. Dan kami diantara selawaktu itu yang ikut serta menanti pengumuman tersebut, juga sembari tak berhenti untuk bersuara menyuarakan jualan kami yang sudah tinggal beberapa sisa lagi. Dan akhirnya keputusan para Panitia pelaksana acara Muktamar tersebut sudah di tetapkan sebagai suara sah bahwa yang menjadi Ketua Umum PBNU yakni beliau K.H. Yahya Cholil Staquf.

Dan akhirnya untuk ke esokan harinya segala aktifitas kami suadah di tutup dengan bersamaan Penutupan acara Mukatamar yang Ke 34 itu, dan kamipun harus beranjak pulang kembali ke jogjakarta, karena masih banyak agenda yang harus kami tuntaskan. Begitualah kiranya Ruang Cerita dan kisah perjalananku ke Muktamar Lampung, yang begitu mengenang dan sulit untuk di lupakan.

Demikian Ruang Ceritaku dalam Muktamar NU di Lampung . Semoga bermanfaat.

Penulis: Moh. Asy’ari, Aktivis Pemuda NU dan Mahasiswa UNU Yogyakarta dari Kepulauan Sapeken, Sumenep Madura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.