Peran Self Efficacy dalam Mengatasi Mood Swing

Peran Self Efficacy dalam Mengatasi Mood Swing

Diposting pada 139 views

Peran Self Efficacy dalam Mengatasi Mood Swing

Oleh: Fikri Hailal

Berubah-ubahnya kondisi hati seseorang adalah suatu keadaan yang wajar dan natural yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Akan tetapi, jika mood swing yang dialami oleh seseorang sering terjadi – terjadi secara tiba-tiba dan sering berubah – dalam kehidupan sehari-harinya. Kemungkinan orang tersebut sedang terkena gangguan mental, yaitu bisa saja terjangkit penyakit bipolar atau sejenisnya. Mood swing merupakan berubahnya kondisi atau suasana hati seseorang yang dapat diketahui orang lain. Keadaan mood swing umumnya terjadi pada diri seseorang sebagai bentuk respon dari keadaan yang sedang dialami.

Keadaan mood swing masih terbilang wajar, jika tidak sampai menimbulkan indikasi gangguan terhadap aktivitas sehari-harinya. Dan jika sampai mengganggu aktivitas sehari-hari – yang dikarenakan keadaan mood swing – maka perlu diwaspadai, apakah orang tersebut sedang mengalami gangguan mental atau sejenisnya.

Mood Swing dalam Sudut Pandang Psikologi

Dalam dunia psikologi kita pernah menjumpai istilah Cyclothymia atau cyclothymia. Istilah ini – Cyclothymia – terdiri dari dua kata yakni Cycle berati perputaran dan thymic berarti mood atau keadaan perasaan seseorang. Dengan kata lain istilah Cyclothymia merupakan nama lain dari mood swing yaitu sebuah keadaan perubahan kondisi atau suasana hati seseorang karena bentuk respon dari yang dialaminya, perubahan ini bisa berupa wujud keadaan hipomania dan berupa depresi bagi seseorang yang mengalami mood swing (Kaplan, 2015).

Cyclothymia atau mood swing bisa disebut dengan gangguan cyclothymic. Gangguan ini adalah wujud ringan dari gangguan bipolar. Sama halnya dengan gangguan bipolar, mood swing biasanya akan membuat si penderita merasakan gejala emosi yang labil. Terkadang merasakan emosi yang begitu memuncak atau berkobar, disatu sisi pula tiba-tiba si penderita merasakan emosinya menurun dan mengalami rasa pesimis, bahkan lebih parhnya lagi berusaha ingin bunuh diri. Akan tetapi disaat keadaan mood stabil – berada pada fase tengah-tengah antara emosi tinggi dan rendah –, si penderita akan berada pada kondisi emosi yang stabil atau keadaan emosi yang baik-baik saja (Perugi dkk, 2015).

Peran Self Efficacy dalam Mengatasi Mood Swing

Tipe-tipe Gangguan Mood

Gangguan mood atau sebutan kekiniannya dengan istilah “mood disorder”, merupakan sebuah gejala kesenjangan mental yang mampu menimbulkan perasaan lelah, gelisah, galau, dan kecewa dalam hati seseorang.

Penulis ingin menyampaikan bahwa mood disorder tergolong menjadi beberapa jenis. Dan faktor penyebabnya juga bermacam-macam, meskipun secara realitas pasti penyebab suasana hati belum diketahui. Akan tetapi ada beberapa hal yang dapat mengintervensi indikator dari mood disorder, diantaranya adalah asupan sumber kimiawi yang masuk kedalam pikiran atau otak mengalami ketidak seimbangan, faktor genetik, dan kemungkinan yang lain adalah adanya unsur trauma pada peristiwa kejadian yang pernah dialami sang pelaku. Adapun ragam tipe-tipe mood disorder diantaranya adalah:

1. Depresi mayor, merupakan nama lain dari depresi akut atau berat. Seseorang yang mengalami depresi akut akan merasakan kesedihan yang mendalam, kehampaan dalam hidup, pasif thinking, yang biasanya dibarengi dengan menurunnya fungsi  kekebalan tubuh, kognisi, maupun afeksi.

2. Bipolar yang mempunyai nama lain depresi manik adalah ganggungan suasana hati yang diindikasikan dengan siklus emosi yang cenderung labil, serta perubahan energi yang derastis berubah-ubah – terkadang energi semangatnya menggebu-gebu, terkadang pula menurun secara derastis dan pasif –. Impact dari penderita yang terjangkit depresi manik, kerap kali aktivitas yang dilakukan dapat membahayakan diri penderita maupun diri orang lain.

3. Siklotimia, merupakan kondisi dimana hati mengalami perasaan yang labil, akan tetapi tak seperti labilnya seorang penderita yang mengalami bipolar.

4. Distimia, merupakan proyeksi depresi yang berkepanjangan. Gangguan ini jika tidak lekas diobati, maka si penderita dapat terjangkit depresi mayor.

5. Disruptive mood dysregulation disorder atau di singkat dengan DMDD, merupakan gangguan emosi yang diindikasikan pada anak-anak sampai remaja usia 18 tahun. Di umur-umur segitu, anak-anak dan remaja rentan meluapkan emosi mereka yang meledak-ledak. Meskipun luapan emosinya tanpa ada pemicu atau provokatif dari pihak lain.

6. Premenstrual dysphoric disorder atau PMDD, merupakan gejala emosi yang biasa menyerang kaum hawa sebelum menstruasi. Biasanya gangguan ini muncul seminggu sebelum kaum hawa datang bulan. Gejala-gejala yang ditunjukan adalah si wanita mudah bad mood, mudah tersinggung, emosi labil, dan merasa terintimidasi.

Peran Self Efficacy dalam Mengatasi Mood Swing

Tanda-tanda Mood Swing yang Perlu di Perhatikan

Perubahan suasana hati yang sering berubah-ubah – mood swing – dapat mengganggu kinerja bahkan sampai rutinitas aktivitas sehari-hari kita semua. Jika mood swing ini sering datang menghampiri. Untuk itu kita semua perlu mengetahui apa saja tanda-tanda penyebab munculnya mood swing. Fungsinya agar kita lebih siap dan mudah mengantisipasinya. Berikut tanda-tanda mood swing (https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/penyebab-mood-swing/) adalah:

  1. Rasa kecewa atau sedih yang sering menghampiri.
  2. Emosi mudah terpancing.
  3. Turunnya konsentrasi atau fokus seseorang, sehingga mengalami kepelikan saat memutuskan suatu perkara.
  4. Minat terhadap hal-hal yang disukai menurun.
  5. Terjadinya perubahan pada nafsu makan dan berat badan.
  6. Mudah merasa lelah, letih atau lesu, bahkan disatu sisi terkadang merasa energik diluar kebiasaan.
  7. Mengalami gangguan pola tidur.
  8. Menunjukkan perilaku ceroboh atau tidak semestinya dilakukan.
  9. Intonasi bicara yang berubah – bisa bicara dengan cepat, kasar, atau keras –.
  10. Mengalami kesulitan saat memahami dan memberikan sebuah informasi.
  11. Gangguan kesehatan, seperti mudah sakit kepala, badan mudah pegal-pegal sampai gangguan pencernaan.

Peran Self Efficacy dalam Mengatasi Mood Swing

Akan tetapi, jika diantara kita mengalami tanda-tanda yang selain penulis sampaikan diatas. Kita patut waspada dan mawas diri, alangkah baiknya segera menghubungi atau mengkonsultasikan permasalahan yang sedang dihadapi ke dokter spesialis terdekat atau dokter pribadi. Sebab, jika tidak segara mengkonsultasikan keluhan-keluhan yang dialami. Dikhawatirkan akan mengalami depresi akut atau mayor, dan kemungkinan fatal akan mengakibatkan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menyakiti diri sendiri atau mengambil tindakan untuk bunuh diri.

Untuk itu, patutlah bagi diri kita memperhatikan perubahan mood – mood swing – atau memperhatikan perubahan-perubahan pola tngkah orang terdekat (keluarga). Fungsinya adalah saat terjadi tanda-tanda yang telah disampaikan diatas. Kita bisa dengan mudah mengambil tindakan yang terbaik terhadap diri kita ataupun terhadap keluarga.

Bagaimana Mengelola Mood?

Melihat jenis-jenis gangguan mood yang telah disampaikan sebelumnya. Jika gejala gangguan mood disebabkan oleh rasa trauma atau faktor genetik. Maka si penderita bisa menerapkan konsep selfefficacy – suatu keimanan dalam diri sendiri, bahwa dirinya mampu menyelesaikan permasalah-permasalahan yang sedang atau akan dihadapinya dengan berhasil – pada diri sendiri (Bandura 1997).

Dapat kita pahami, bahwa efikasi diri atau self efficacy adalah proses meyakinkan diri sendiri, bahwa dirinya mampu mengerjakan tugas tersebut. Konsep efikasi diri ini, berusaha menampilkan diri seseorang dalam meng-cover dan memproyeksikan kualitas diri, bahwa dirinya mampu melaksanakan tugas dengan cakap (Capcara, Scabini, De Regalia (2006), disisi lain disampaikan bahwa proses efikasi diri terbangun lantaran jam terbang yang intens, pengalaman, adanya penugasan dan dibarengi komitmen, dan juga adanya hubungan antar masyarakat.

Artinya si penderita dapat menanamkan dan menumbuhkan rasa keyakinan dalam diri, bahwa dirinya mampu mengatasi dan melewati gejolak pergulatan dalam hati yang sedang dirasakan. Akan tetapi jika faktor gangguan mood yang dialami oleh si penderita adalah dari faktor kimiawi. Maka si penderita dapat mengkonsultasikan kepada dokter spesialis dan meminta obat sebagai ikhtiyar penyembuhan.

Demikian Peran Self Efficacy dalam Mengatasi Mood Swing. Semoga menambah informasi.

Oleh: Fikri Hailal, Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies Psikologi Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.