Kisah Wali Jadzab Putra Mbah Liem Imampuro

Kisah Wali Jadzab Putra Mbah Liem Imampuro

Diposting pada 155 views

Kisah Wali Jadzab Putra Mbah Liem Imampuro

Bilqolam.id – Sejak masih di pondok, beliau sudah menunjukkan perilaku yang kurang lazim. Semisal memakai sandal kiri semua, memotong rambutnya sendiri sehingga hasilnya tidak rapi, dll. Saat ada kawan yang bertanya alasannya, beliau menjawab, “Agar tidak disukai oleh perempuan.”

Sampai dewasa pun, perilaku tersebut masih beliau lakukan. Rambut dipotong sendiri; memakai sandal sambungan; sarung, baju, dan peci tambalan; topi dijadikan peci; serta mobil dan motor tua yang berkarat.

Padahal kalau beliau mau, perangkat untuk menjadi terkenal sungguh tersedia melimpah. Beliau adalah putranya KH Muslim Rifa’i Imampura dan santrinya KH Ali Maksum Krapyak, bahkan sering masuk kamar pribadi kiainya ini. Saat di Kajen Pati, beliau adalah santri ‘ndalem’ dua kiai besar sekaligus: KH Abdullah Salam dan KH Sahal Mahfudz. Maksud santri ndalem di sini bukan santri yang membantu kerjaan rumah kiai, tetapi santri yang dipilih oleh kiai untuk tinggal di ndalem karena ada pertimbangan khusus. Semua kiai yang saya sebut di atas adalah kiai-kiai yang terkenal dengan kewaliannya.

Setelah lulus dari Mathali’ul Falah Kajen, beliau melanjutkan kuliah di Universitas Baghdad, Irak. Setelah lulus kuliah, beliau pulang tanpa membawa ijazah sarjana karena tidak berkenan mengambilnya di kampus.

Sampai menjelang wafat, jarang sekali beliau keluar rumah untuk kumpul-kumpul dengan yang lain. Ada acara apapun di pesantrennya, baik yang kecil semisal selapanan maupun yang besar seperti haul, beliau tetap di rumah. Maka jangankan ‘cuma’ camat, bahkan bupati, gubernur, menteri, atau wapres sekalipun yang rawuh ke pesantren, beliau tetep tidak mau ikut menemui.

Ucapan-ucapannya kadang bisa kami cerna, dan kadang juga tak tercerna dengan baik lantaran di luar jangkauan rasionalitas kami.

Kini, secara fisik, guru spiritual dan salah satu tiang Alpansa itu telah meninggalkan kami untuk selamanya. Semoga para penerusnya dapat melanjutkan perjuangannya. Untuk Gus Muhammad Choiri Qomarudin al Aslami: al Fatihah.

Demikian Kisah Wali Jadzab Putra Mbah Liem Imampuro. Semoga bermanfaat.

Penulis: KH. Karsono Khasani, Pengasuh Pondok Pesantren Alpansa Klaten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.