Fenomena Penyuka Sejenis Era Milenial dan Pandangan Psikologi Islam
Fenomena Penyuka Sejenis Era Milenial dan Pandangan Psikologi Islam

Fenomena Penyuka Sejenis Era Milenial dan Pandangan Psikologi Islam

Diposting pada 375 views

Fenomena Penyuka Sejenis Era Milenial dan Pandangan Psikologi Islam

Suka sesama jenis atau Penyuka Sejenis? Iya, suka sesama jenis yang sekarang lagi  booming-booming nya di kalangan masyarakat milenial, baik itu di perkotaan bahkan juga di perdesaan atau perkampungan . Fenomena ini semakin berkembang dari tahun ke tahun, bahkan banyak orang yang mengaku bahwa dirinya termasuk kaum homoseksual sudah secara terbuka menyatakan dan mengidentifikasikan dirinya sebagai identitas kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Apa itu homoseksual ? Homoseksual menurut Prof Dadang Hawari adalah rasa tertarik secara perasaan (kasih sayang, hubungan emosional) dan atau secara erotik, terhadap jenis kelamin yang sama, dengan atau tanpa hubungan seks dengan mulut atau dubur.

Sebagai contoh di suatu daerah A, terdapat kaum Gay dan Lesbian. Dari keadaan fisik terlihat ada yang bersikap kemayuan berdasarkan informasi yang didapat, seseorang itu punya keturunan anggota keluarga yang terlahir berjenis kelamin laki-laki, akan tetapi sekitar umur 15 tahun keluar darah, dan alat kelamin nya mengecil, sejak itu dia bersikap seperti perempuan, nah ini menjadi salah satu faktor genetik dari keluarga mereka,  sebagai contoh lain ada laki-laki yang  g tetap seperti lelaki normal pada umumnya, namun, diketahui mereka menyukai pria dalam artian mereka memiliki rasa sayang, rasa cemburu ketika pria yang mereka sukai itu didekati orang lain, padahal seperti yang kita ketahui mereka sendiri adalah seorang pria.

Jadi, pemicu semakin meningkatnya kaum LGBT salah satu nya karena kecanggihan teknologi yang sekarang sangat berkembang pesat, juga memicu kaum LGBT semakin meningkat. Contohnya terdapat aplikasi-aplikasi yang menghubungkan untuk mendapatkan kelompok yang suka sesama jenis, sehingga mereka bisa berkomunikasi lewat aplikasi tersebut dan melalui aplikasi itu mereka sesama LGBT dapat mengetahui lokasi yang berada disekitar di tempat tinggal mereka. Seperti aplikasi Grindr, Aplikasi ini ternyata paling banyak dipakai oleh kaum gay. Grindr diluncurkan pertama kali pada tahun 2009, aplikasi dengan lambang topeng ini telah merangkul lebih dari 5 juta pengguna gay yang tersebar di 192 negara. Bahkan, 10.000 pengguna baru mencoba aplikasi ini setiap harinya. Kemudian aplikasi Dattch Aplikasi chatting ini diluncurkan untuk kaum lesbian. Para wanita bisa mencari kriteria pasangan yang mereka inginkan, bahkan aplikasi ini juga dipergunakan oleh wanita bisexual dan bahkan wanita normal yang penasaran dengan lesbian, Hornet dan aplikasi lainnya. Selain itu yang saya amati beberapa minggu belakangan ini, media sosial juga menjadi sarana bagi kaum LGBT seperti Tiktok, Instagram, dan Twitter.

Nah dengan adanya aplikasi-aplikasi dan media sosial tersebut secara tidak langsung kaum-kaum LGBT atau suka sesama jenis (homoseksual) pasti akan selalu meningkat. Hal itu sangat berdampak pada lingkungan, kesehatan seperti (HIV/AIDS, Gonorrhea (kencing nanas), dan lain-lain, bahkan akan berdampak pada kekerasan, baik itu kekerasan seksual, emosional dan fisik bahkan mental. The British Journal of Psychiatry, mengeluarkan sebuah hasil penelitian mengenai penyakit mental yang tinggi pada pria gay, lesbian, dan pria & wanita biseksual, asdanya risiko gangguan kesehatan mental dan emosional pada homoseksual, seperti: depresi, gangguan mental, gangguan kecemasan, gangguan perilaku (melakukan penganiayaan-kekerasan seksual atau fisik/sexual atau physical abuse), menyakiti/melukai diri sendiri, hingga perilaku bunuh diri.

Indonesia tidak memiliki hukum nasional yang melarang homoseksualitas kecuali Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. UU ini mengatur bahwa perkawinan yang sah hanya perkawinan antara pasangan heteroseksual. Akan tetapi dalam beberapa tahun ini LGBT diskriminasi terhadap kelompok gender dan seksual minoritas di Indonesia terus terjadi. Lembaga Swadaya masyarakat mencatat tindakan diskriminasi oleh kaum LGBT mulai dari bullying hingga pembunuhan. Jumlah kaum homoseksual, biseksual, dan transeksual yang banyak tumbuh di Indonesia merupakan indikasi bahwa ayat yang berisi peringatan dan larangan tersebut diabaikan oleh umat Muslim Indonesia.

Fenomena Penyuka Sejenis Era Milenial dan Pandangan Psikologi Islam

Nah,  “bagaimana pendapat Para Ulama tentang LGBT atau penyuka sesama jenis dan Bagaimana hukumnya dalam Islam?” Dari sudut pandang agama Islam, perilaku penyimpangan seksual dilarang dan dilaknat oleh Allah SWT. Hal ini berdasarkan Al Quran dan beberapa hadis Rasullah SAW.

Dalam Al Quran perilaku homoseksual disebut di antaranya dalam QS. al-A’raf ayat 80- 84, dan QS. Hud ayat: 77-82, Umat Nabi Luth adalah sekelompok manusia yang melakukan homoseksual dalam kehidupannya. Allah SWT mengutus Nabi Luth As untuk memberi peringatan kepada umatnya atas perilaku mereka yang berdosa tersebut dan pada akhirnya umat Nabi Luth As diazab oleh Allah SWT karena ketidakmauan mereka menerima peringatan Nabi Luth As, Kisah itu tertuang sebagai berikut:

Artinya: Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu

Jelas bahwa Islam secara tegas menyatakan bahwa perilaku homoseksual maupun lesbian adalah bentuk perilaku seksual menyimpang bahkan bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Dalam Islam, hubungan seks tidak hanya untuk memuaskan hawa nafsu (prokreasi), akan tetapi memiliki tujuan penting yang menyangkut kelangsungan kehidupan dan melanjutkan keturunan (reproduksi). Hubungan seksual sesama jenis tidak sejalan dengan tujuan hubungan seksual dalam Islam, karena tidak mungkin akan menghasilkan keturunan.

Imam Al Ghazali menjelaskan tentang hakikat manusia yang memiliki nafsu, digolongkan menjadi tiga derajat jika ditinjau dari sifat-sifatnya, yaitu (Nafsu yang berada pada derajat terendah adalah Nafsu Amarah yaitu nafsu yang senantiasa menyuruh pada kejahatan, Nafsu Lawwamah adalah jiwa yang selalu menyesali diri, dalam kondisi ini ia tidak rida pada keburukan sehingga cenderung padanya dan tidak mampu mencapai ketenangan sehingga merasa tenteram dalam kebaikan, yakni zikir kepada Allah. Nafsu dengan derajat tertinggi adalah Nafsu muthmainnah, kondisi yang membedakan hakikat manusia dari seluruh hewan, nafsu yang bersih dan dihiasi dengan zikir kepada Allah, maka nafsu akan bersih dari noda-noda syahwat dan sifat-sifat tercela.

Dalam buku ad-Dâ’Wa ad-Dawâ oleh Imam Ibn al-Qayyim mengatakan dampak negatif yang ditimbulkan perbuatan Liwâth (homoseksual), sebagaimana perkataan Jumhur Ulama ijma’ dari para sahabat mengatakan, “Tidak ada satu perbuatan maksiat pun yang kerusakannya lebih besar dibanding perbuatan homoseksual. Bahkan dosanya berada persis di bawah tingkatan kekufuran bahkan lebih besar dari kerusakan yang ditimbulkan tindakan pembunuhan”.Oleh karena itu, sudah jelas bahwa LGBT adalah hal yang dilarang dalam agama Islam.

Pertanyaan yangt timbul kembali “apakah orang yang mencintai sesama jenis bisa masuk surga” ? Jawabannya adalah BISA, kenapa demikian? Ketika dia sudah bertaubat dengan sesungguhnya atau taubatannasuha . beramal saleh kemudian mengganti kejelekan-kejelekannya dengan kebaikan, membersihkan berbagai dosanya dengan berbagai ketaatan dan taqarrub kepada Allah, menjaga pandangan dan kemaluannya dari hal-hal yang haram, dan tulus dalam amal ibadahnya, maka dosanya diampuni dan termasuk ahli surga. Karena Allah mengampuni semua dosa. Apabila taubat saja bisa menghapus dosa syirik, kufur, membunuh para nabi, sihir, maka taubat pelaku homoseks juga bisa menghapuskan dosa-dosa mereka.

Fenomena Penyuka Sejenis Era Milenial dan Pandangan Psikologi Islam

Apa sebenrnya penyebab seseorang itu menjadi LGBT?

  1. Faktor genetik, jadi ada beberapa penelitian menyebutkan faktor LGBT bisa berasal dari dalam tubuh seseorng LGBT yang menurun dari anggota keluarga sebelumnya. Hal ini benar terjadi dan menurut informasi yang didapat secara langsung dari responden yang di wawancarai seperti yang sudah dijelaskan pada contoh disuatu daerah diatas.
  2. Faktor Keluarga, nah bagaimana dengan faktok ini? Faktor ini yaitu terdapat pada pola asuh dan pendidikann. Ada beberapa kasus ketika anak cenderung mendapat perlakukan kasar baik dari ayah nya atau saudara laki-lakinya sehingga dia merasa trauma dan takut kepada laki-laki. Contoh faktor asuh yaitu, jika orang tua semasa kecilnya suka mendandani anak laki-lakinya, jika anak perempuan terkadang orang tua suka memakai kan pakaian laki-laki, sehingga anak kelihatan menjadi tomboi.
  3. Faktok Lingkungan, bukan hanya faktar keluarga, faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi seseorang, faktor ini menjadi faktor yang paling dominan seseorang penyebab LGBT.

Apakah seseorang LGBT bisa kembali pada fitrahnya? Hal ini jawabannya adalah pasti bisa, bahkan perlu diselamatkan dan diberi pilihan hidup yang dapat mengembalikan lagi pada fitrahnya semula. Dari hasil data informan yang didapat pada poin apakah dengan orientasi seksual sejenis perlu diberikan penanganan khusus untuk mengembalikan orientasi seksualnya? Hampir semua informan menyatakan perlu adanya penanganan khusus untuk mengembalikan orientasi seksualnya menjadi heteroseksual sehingga mereka kembali pada fitrah-Nya apakah sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan yang normal.

Secara Psikologi dikenal istilah personal growth yang merupakan metode atau cara pengembangan kepribadian dalam meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mencerminkan kedewasaan guna untuk mencapai kondisi yang lebih baik, karena manusia sebagai “the self determining being” memiliki kemampuan untuk menentukan yang terbaik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Salah satu kegiatan pengembangan pribadi adalah pelatihan “menemukan makna hidup” yang dikemukakan oleh Hanna Djumhana yang menyatakan bahwa pengembangan kepribadian ini didasari oleh prinsip “panca sadar”,  terdiri dari:

  1. Sadar akan citra diri yang diidam-idamkan
  2. Sadar akan keunggulan dan kelemahan diri sendiri
  3. Sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari lingkungan sekitar
  4. Sadar akan pendekatan dan metode pengembangan pribadi
  5. Sadar akan tokoh idaman dan panutan sebagai suri teladan.

Nah bagian dari upaya untuk dapat mengubah dan pengembangan pribadi inilah yang kemudian akan mengarahkan sebuah upaya yang dilakukan secara sistematis untuk mengembangkan semua usaha yang memadukan aspek psikoterapi dan agama Islam menjadi satu bagian komprehensif sebagai solusi permasalahan homoseksual.

Demikian Fenomena Penyuka Sejenis Era Milenial dan Pandangan Psikologi Islam, semoga bermanfaat.

penulis : Isnaini, S.Pd

Mahasiswa asal Tanjungabalai Asahan, Sumatera Utara .

Sekarang sedang menempuh studi Interdiciplinary Islamic Studies (Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ig: @isnalbs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.