Fenomena Narsistik dan Gangguan Kesehatan Mental Millenial Gen Z

Fenomena Narsistik dan Gangguan Kesehatan Mental Millenial Gen Z

Diposting pada 156 views

Fenomena Narsistik dan Gangguan Kesehatan Mental Millenial Gen Z

Oleh: Istifadatul Ghoziyah

Ada sebuah istilah, “live while we’re young!” yang artinya nikmatilah hidup selagi kamu muda!. Pasti kita para generasi muda ini tidak asing dengan istilah tersebut, bukan? Merujuk pada istilah itu, generasi muda atau yang sekarang disebut generasi Z atau kadang kita menyebutnya anak jaman now, banyak yang mempersepsikan hal tersebut selagi muda bersenang-senanglah karena kalau sudah tua, masalah manusia semakin banyak.

Maka dari itu, menurut mereka gen Z ini ketika masih muda, atau dengan kata lain ketika masalah hidup masih sedikit, hidup harus dinikmati sebanyak-banyaknya! Dan kebanyakan dari mereka mencari kebahagiaan melalui sosial media, dengan narsis dan posting-posting kehidupan serta foto yang diangapnya kan memperoleh banyak pujian dari orang lain.

Eits… akan tetapi apakah dengan mereka narsis di sosial media mereka sepenuhnya merasa bahagia? Atau malah justru sebaliknya? Ketika yang diperoleh bukan pujian namun kritikan. Jadi bagaimana sih dampaknya terhadap kesehatan mentalnya apakah akan tergangu? Yuk simak pembahasannya.

Seperti yang kita ketahui bahwa semakin berkembangnya zaman, teknologi semakin canggih. Bukan hanya teknologi, melainkan salah satunya adalah maraknya perkembangan sosial media di masyarakat. Perkembangan sosial media ini memberikan kemudahan pada masyarakat dalam berkomunikasi,bisnis, bahkan ilmu pengetahuan. Namun, disisi lain, perkembangan sosial media ini juga memberikan dampak yang buruk. Salah satu dari dampak buruk penggunaan media sosial adalah mengakibatkan gangguan kepribadian, dan menimbulkan perilaku yang dapat menganggu kesehatan mental. Dilansir dari berbagai sumber, berikut penyakit mental yang disebabkan oleh media sosial adalah:

Pertama, Fomo Syndrome. Fear of Missing Out (FoMO) adalah sebuah perasaan bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani hidup lebih baik, atau memiliki pengalaman yang lebih baik dibanding dengan diri kita. Hal ini membuat diri kita menjadi iri dan menimbulkan perasaan kecemasan yang berlebih apabila kita tidak dapat mengikuti atau mengetahui tren yang sedang terjadi di media sosial penderita FoMO akan mengalami kecanduan akut terhadap internet dan media sosial karena kecemasannya agar tidak ketinggalan tren.

Kedua, Depresi. Depresi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan suasana  hati dengan perasaan sedih yang dalam dan berlebihan. Orang yang mengidap depresi akan kehilangan semangat dan minatnya dalam melakukan aktivitas. Media sosial membuat potensi depresi semakin meningkat karena adanya asumsi tuntutan dari masyarakat. Akibatnya, seseorang itu akan merasa tertekan dan mengalami depresi.

Ketiga, Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Apabila hasratnya ini tidak terpenuhi, maka si penderita akan diliputi oleh kecemasan dan ketakutan. Media sosial membuat OCD merasa tidak sempurna dengan apa yang ditulis atau diunggahnya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya filter atau editan yang diberikan pada foto sebelum diunggah.

Keempat, Narcissistic Personality Disorder. Orang yang menderita Narcissistic Personality Disorder disebut dengan Narcissist. Orang dengan penderita ini menganggap bahwa dirinya lebih penting daripada orang lain. Orang dengan gangguan mental narsistik memiliki kebutuhan yang tinggi untuk dipuji dan dibanggakan, tetapi ia memiliki empati yang rendah terhadap orang lain. Meskipun terlihat memiliki kepercayaan diri yang tinggi, orang narsistik memiliki kepribadian yang rapuh dan mudah runtuh hanya karena sedikit kritikan, meskipun di media sosial (Naufal Ridhwan Aly: Tempo, 2021)

Fenomena Narsistik dan Gangguan Kesehatan Mental Millenial Gen Z

Dan seperti yang kita ketahui di atas narsistik adalah kondisi gangguan kepribadian dimana seseorang akan menganggap dirinya sangat penting dan harus dikagumi. Pengertian akan kepribadian narsistik sendiri berasal dari Yunani, ketika seseorang pemuda bernama Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri ketika tidak sengaja melihat dirinya pada kolam air (dr. Fitrina Aprilia: alodoc, 2019).  Di Indonesia, khususnya dikalangan generasi millenial/gen Z, narsis dengan cara berselfie merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan. Mengambil gambar diri mauun dengan orang lain, adalah ciri khas dari foto selfie.

Beberapa psikolog berpendapat bahwa, selfie adalah suatu bentuk aktualisasi diri, dan itu menjadi hal yang positif jika selfie ini menghasilkan sesuatu yang bernilai seni tinggi. Selfie bukanlah sesuatu yang negatif, karena hanya sekedar menunjukkan dirinya pada publik melalui sosial media. Dan itu bukanlah suatu masalah yang besar. Namun, jika sudah kecanduan selfie ini juga memiliki dampak buruk, salah satu dampak buruk itu adalah kecenderungan narsistik, perilaku ini banyak dilakukan oleh para generasi millenial/gen Z sekarang karena merupakan bagian besar dari pengguna smartphone.

Gangguan kepribadian narsistik atau yang disebut narcissistic personality disorder terjadi akibat adanya perilaku seseorang yang secara berlebihan memperlihatkan kelebihan yang dimiliki. gangguan narsistik adalah kurangnya kasih sayang atau perhatian dari orang-orang disekitar dan itu yang menyebabkan beberapa orang mencari sensasi itu di dunia maya, dengan mencari perhatian di sosial media, agar para netizen yang melihatnya bisa memujinya karena gen Z merasa bahwa postingannya dari hasil selfi dirinya sangat menarik. Nah berikut ini adalah gejala dari gangguan kepribadian narsistik, yaitu:

  1. Percaya bahwa dia lebih baik dari yang lain;
  2. Ilusi kekuasaan, kesuksesan dan ketertarikan,
  3. Melebih-lebihkan prestasi atau bakat,
  4. Harapkan pujian dan kekaguman yang konstan;
  5. Percaya bahwa dia istimewa dan berperilaku sebagai seseorang yang istimewa,
  6. Harapkan orang lain setuju dengan ide dan rencananya,
  7. Menyatakan suatu bentuk penghinaan terhadap orang yang dianggap inferior (rendah),
  8. Menjadi iri pada orang lain,
  9. Percaya bahwa orang lain cemburu pada diri sendiri,
  10. Mudah terluka dan Memiliki harga diri yang rapuh.

Dalam perspektif agama, narsistik ini masuk kedalam kategori sikap riya. Riya adalah sikap seseorang yang suka menunjukkan atau memperlihatkan kebaikan karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain, itu termasuk riya. Firman Allah dalam QS An-Nisa ayat 142 :

Artinya : “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”

Fenomena Narsistik dan Gangguan Kesehatan Mental Millenial Gen Z

Maksud ayat tersebut adalah melakukan sesuatu karena pamrih ingin dilihat dan dipuji di hadapan manusia. Menurut al-Muhaisibi ada tiga faktor yang bisa menimbulkan sifat riya, yaitu: senang dipuji, takut dicela dan dihina, serta tamak pada dunia. Lebih lanjut al-Muhaisibi menjelaskan bahwa sifat riya juga menjerumuskan manusia kedalam kemusyrikan. Walaupun secara lahiriah dia menyembah Alloh SWT, namun secara batiniah dia tidak menyembah Alloh SWT. Akibat yang ditimbulkan oleh sifat riya adalah sombong dan bangga diri yang berlebihan (Delza Annora, Kompasiana: 2021).

Orang dengan kepribadian narsistik biasanya merasa memiliki prestasi yang luar biasa dan lebih baik dari orang lain serta merasa terlalu bangga pada diri sendiri. Ini terjadi meski pencapaiannya biasa-biasa saja. Orang narsisitik juga biasanya memiliki tingkat empati yang rendah terhadap orang lain, dan menganggap diri mereka lebih penting daripada orang lain. Orang dengan gangguan kesehatan mental/kepribadian narsistik memiliki perasaan mudah tersinggung dan mudah merasa tertekan ketika dikritik oleh orang lain, meskipun mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Kepribadian narsistik termasuk dalam kategori gangguan kesehatan mental (antisosial dan self-limiting) karena pada umumnya penderita gangguan kesehatan mental memiliki perilaku yang dramatis dan emosional. Mentalnya akan mudah tergangu karena ketika postingannya di kritik/ di coment kurang baik gen Z, akan ada kemungkinan langsung marah/emosi berlebihan dan kurang bisa mengontrol dirinya. Sehingga mereka akan balik merespons balik dengan kata-kata yang kurang baik. Dan juga akan mudah merasa stres berlebihan.

Media sosial seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak seindah kenyataan. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada generasi-Z. Jangan salahkan media sosial karena ada beberapa orang yang banyak menggunakannya secara positif. Banyak yang menemukan dampak buruk tapi tidak sedikit pula yang menemukan bahwa ada pengguna media sosial yang positif. Pada dasarnya harus bijak dalam bermain sosial media.

Demikian artikel yang berjudul Fenomena Narsistik dan Gangguan Kesehatan Mental Millenial Gen Z. Semoga bermanfaat. ***

Penulis: Istifadatul Ghoziyah, Mahasiswa Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam, Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies Fakultas Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.